Market

Ricuh Smelter Morowali, Jatam Ungkap Kedekatan Bos GNI dengan Gubernur Ali Mazi

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) membongkar jaringan pengusaha dan penguasa di balik PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng). Termasuk kedekatannya dengan Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi.

Dalam rilis kepada Inilah.com, Jakarta, Kamis (19/1/2023), Kepala Simpul dan Jaringan Jatam, Ki Bagus Hadi Kusuma, membeberkan adanya korelasi Tony Zhou Yuan, direktur GNI yang juga presiden direktur di dua perusahaan smelter nikel di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, yakni PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS).

Dan, kata Ki Bagus, VDNI tidak lepas dari jejak kotor dalam operasinya di kawasan Morosi, Konawe Utara. Dalam catatan Jatam, VDNI pernah melakukan kriminalisasi terhadap 12 buruh yang melakukan aksi dan bentrok dengan petugas keamanan perusahaan.

Sedangkan PT OSS yang beroperasi di kawasan Motui, Konawe Utara, kata dia, telah mencemari udara di enam desa dengan debu batubara dari cerobong PLTU milik perusahaan. Akibat dari debu batu bara dari PLTU yang hanya berjarak seratusan meter dari pemukiman warga ini, aktivitas warga mulai terganggu, mata memerah perih saat terkena debu batubara, hingga sering batuk dan susah bernafas.

Baca Juga  Menangkan Mosi Tak Percaya di Parlemen, PM Anwar Ibrahim Kini Fokus ke Pemulihan Ekonomi

“Tak hanya itu, Tony Zhou Yuan juga memiliki kedekatan dengan Ali Mazi, Gubernur Sulawesi Tenggara. Ali Mazi diketahui menjadi dewan pengawas di yayasan milik Tony Zhou Yuan yang bernama Andrew & Tony Foundation,” beber Ki Bagus.

Terkait bentrokan antara pekerja lokal dengan tenaga kerja asing di smelter GNI pada sabtu (14/1/2023) yang menewaskan 2 pekerja lokal dan 1 pekerja asing, menurutnya, bukan lagi suatu kejutan. Sudah banyak jejak kejahatan perusahaan asal China itu, serta respons pemerintah dan pendekatan hukum yang dilakukan aparat keamanan, merupakan bentuk nyata dari menguatnya kepentingan pebisnis dan elit politik di Indonesia.

“Jatam menilai, baik pekerja lokal maupun TKA adalah sama-sama korban. Pemerintah dan aparat keamanan justru sibuk mengkambing-hitamkan TKI, lalu menghindari realitas konflik struktural sesungguhnya,” ungkap Ki Bagus.

Kata Ki Bagus, kericuhan smelter GNI di Morowali, dikahwatirkan menjalar di wilayah operasi perusahaan tambang lainnya. “Hal ini tentu saja bak bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Pada akhirnya, selain merugikan buruh, juga mengorbankan rakyat dan ruang hidupnya,” imbuhnya.

Baca Juga  INFOGRAFIS: Pertemuan ASEAN Economic Ministers’ Retreat Ke-29

Untuk itu lanjutnya, Jatam mendesak Presiden Jokowi menghentikan operasi dan mencabut izin PT GNI. “lakukan audit atau evaluasi atas seluruh tindakan kejahatannya, baik terhadap buruh, warga terdampak, maupun lingkungan hidup,” ungkapnya.

Facebook Comments

Back to top button